Rose Utina's Blog
Sumber Inspirasi dan semangat hidup

Kisah Perjalan Ibadah Hajiku….

Ini kisahku sewaktu menunanikan ibadah haji di tahun 2003.

Sungguh merupakan suatu karunia Allah yang Maha besar bagi saya sehingga saya diberi kesempatan olehNya untuk dapat berangkat menunaikan ibadah Haji bersama-sama dengan suami. Sebelumnya,  dana kami untuk bisa berangkat berdua belumlah mencukupi mengingat saat itu biaya perjalan haji sudah naik otomatis kami harus berjuang dahulu untuk bisa mencukupinya.

Sempat aku mengemukanan pada suami bahwa mengingat dana haji kami hanya bisa membayar untuk 1 orang saja, saya mengizinkan suami dulu yang berangkat, nanti kalau rezeki sudah cukup aku berniat pergi untuk kesempatan mendatang. Namun niat dan tekad suamiku sudah bulat kita harus berangkat bersama-sama dan keinginanku yang begitu besar untuk bisa berangkat ke Baitullah.  Bagi suamiku kalau tidak bisa berangkat bersama-sama waktu keberangkatan bisa ditunda dahulu sampai rezeki cukup dan kami bisa berbarengan untuk menunaikan ibadah Haji bersama-sama.

Allah sungguh Maha Pemurah dan Maha Penyayang, sebelum deadline pembayaran berakhir, rezeki itu datang….. Alhamdulillah ya Allah Engkau telah memberikan rezeki disaat kami sungguh sangat membutuhkan.

“Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya”. (Al-Baqarah  : 286).


Allah memperlihatkan kemudahan dan kasih sayangnya kepada hamba Nya yang membutuhkan dan tidak memberi beban diluar kemampuan ummatNya.

Akhirnya kami bisa melunasi pembayaran untuk keberangkatan ibadah Haji kami tahun 2003.

Terngiang-ngiang lafaz yang berbunyi :

“Labbaik Allahumma Labbaik,Labbaik laa syarikka laka labbaik, Innal haamda wanni’mata laka wal mulk Laa syariika laka.”

yang artinya :

Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah,

Aku datang memenuhi panggilanMu, Tidak ada sekutu bagiNya,

Ya Allah aku penuhi panggilanMu.

Sesungguhnya segala puji dan kebesaran untukMu semata-mata.

Segenap kerajaan untukMu.

Tidak ada sekutu bagiMu


terasa merinding bulu kudukku saat mengucapkan lafaz ini (biasa disebut Talbiyah) tak terasa air mata ini mengalir, aku ingin segera kesana ya Allah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Terbayang dipelupuk mataku aku bisa melihat Baitullah, ya Allah aku pasrahkan diriku padamu, tuntunlah aku di jalanmu ya Allah selama berada dirumahmu.

Kami berangkat melalui Embarkasi Hasanuddin, rombongan kami (rombongan POLDA) mendapat giliran berangkat terlebih dahulu (Kloter I), artinya kami harus menunaikan ibadah ke Madinah dahulu untuk menunaikan Arbain (sholat 40 rakaat di Mesjid Nabawi) baru menuju kota Makkah Al Mukaramah.

Perjalanan panjang yang cukup melelahkan tidak membuat aku merasa capek sedikitpun, satu tujuanku ingin cepat-cepat sampai kesana.  Selama perjalanan tak hentinya-hentinya kami melafazkan talbiyah.  Titik demi titik air mata mengalir setiap mengucapkan talbiyah, ya Allah…… kata-kata itu begitu menyentuh walau kami tak bisa melihatmu tapi kami bisa merasakan kedekatan setiap mengucapkan lafaz itu.

Perjalanan ke Medinah ……


Akhirnya tibalah kami di bandara King Abdul Azis di Jeddah kurang lebih pk 23.00 waktu Saudi Arabia, pemeriksaan yang sangat ketat tidak pula membuat kami bosan dalam penantian menuju asrama/hotel yang telah ditentukan oleh Panitia Haji.  Setelah pemeriksaan pasport, dsb. Kami menuju bis yang membawa kami ke Madinah.  Perjalanan memakan waktu kurang lebih 6 jam.  Malampun larut, kami mulai menguap,  satu persatu orang-orang yang ada dalam rombongan kami terlelap.  Dari  bandara King Abdul Azis melewati kotanya masih tampak keramaian, lampu-lampu jalanan dan penerangan dari rumah-rumah penduduk.  Setelah melewati kota menuju perjalan ke Madinah mulai  tak tampak pemandangan kota, kita melewati padang-padang pasir dalam gelap.

Dari arah kejauhan terdengar suara azan subuh, tibalah kami disatu kota kecil entah dimana…. kami saja tidak sempat menanyakan ke pembimbing, suhunya sangat dingin sehingga untuk mengambil air wudhu saja kami tak kuat, tubuh menggigil yang kami rasakan saat itu seperti kami berada disuatu dunia yang penghuninya hanya kami-kami saja, entahlah perasaan itu juga dirasakan oleh suamiku, sempat aku berpikir apakah kami disurga.

Ya Allah…… sungguh begitu Agungnya, perasaan ini sulit dilukiskan dengan kata-kata. Kamipun melaksanakan shalat subuh secara bergantian karena mesjid yang kami singgahi tidak mencukupi, bebarapa bis juga singgah untuk melaksanakan shalat subuh disana.

Pagi dini  hari kami sudah tiba di kota Madinah, Subhanallah akhirnya aku menginjakkan kakiku di kota ini, sungguh indah Mesjid Nabawi, kamipun melaksanakan shalat arbain (40 waktu) seperti yang dilakukan oleh Nabi dalam riwayatnya bersabda :

“Barang siapa yang sholat dimesjidku 40 waktu tanpa  terputus, maka ia pasti  selamat dari neraka dan segala siksa dan selamat dari sifat munafik “.

Melihat megahnya Mesjid Nabawi kami semua menyaksikan sangatlah takjub tak terkecuali aku,  Subhanallah Maha Suci Allah, dengan seizinMU jualah Kau  ciptakan Mesjid ini yang setiap tahun dan setip saat dikunjungi oleh berjuta-juta orang dari berbagai negara.

Pengalaman yang paling berkesan dan tak akan terlupakan sepanjang umurku aku dapat melihat makam Rasulullah  SAW dan disampingnya terdapat makam sahabat-sahabat nabi Abubakar dan Umar bin Hattab

Di bawah kubah hijau ada makam Nabi Muhammas SAW

Di bawah kubah hijau ada makam Nabi Muhammas SAW


Pintu Masuk menuju Makam Rasulullah SAW

Pintu Masuk menuju Makam Rasulullah SAW

melihat pintu itu aku jadi teringat bagaimana kami berusaha antri, dan berlari agar bisa dapat melihat masuk kedalam Makam Nabi Muhammad SAW karena begitu banyak orang yang ingin dan dapat masuk maka kami dibatasi bisa masuk kedalam oleh Laskar wanita dan sangatlah berbahagia waktu kami bisa mencapai pintu itu dan masuk kedalamnya.  Walaupun waktu yang diberikan untuk dapat melihat langsung tidaklah terlalu lama namun esok dan setiap ada kesempatan kami berusaha untuk dapat sholat dekat makam Rasulullah SAW.

Seusai shalat arbain kami lakukan kamipun berkemas-kemas meninggalkan kota Madinah ini, berat rasanya ada perasaan kehilangan, perasaan ini sangat sulit diungkapkan bukan hanya aku, suamikupun merasakannya, aku menangis seperti kehilangan seseorang yang paling kita cintai, saat berada di bis dan kami bersiap-siap berangkat dari kejauhan aku memandang kubah yang berwarna hijau, tetes demi tetes air mata ini mengalir dan  mengalir tak henti-hentinya, aku susah untuk membendungnya sampai akhirnya kubah itu lepas dari pandangan mata kami berdua.

Ya Allah, semoga dihari yang akan datang kalau umurku panjang, serta rezeki yang cukup aku ingin sekali menginjakkan kaki kesini lagi………

Perjalanan menuju Mesjidil Haram …….


Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Baitullah Mesjidil Haram,  jalan yang panjang menuju kesana terhampar padang-padang yang gersang,  tanahnya sungguh kering dan tandus, namun karena kuasaMu jualah semua mahluk hidup yang ada dibumi itu dapat hidup.  Sampailah kami dikota Mekkah Al Mukarramah,  perasaan ini ingin segera melihat Ka’Bah, setelah mengurus penempatan kamar,  rombongan kami segera menuju ke Baitullah.

Ya Allah, hatiku berdetak kencang selama perjalanan menuju rumahMU perasaan ini sangat tidak keruan, sungguh hal yang sangat luar biasa perasaan ini, hatiku berdebar begitu menyaksikan Ka’Bah, (saat aku menuliskan cerita ini dadaku bergetar dan air mata ini mengalir mengingat semua itu……)  begitu banyak manusia memenuhi rumahMU keAgunganMu sungguh membuat seluruh ummatMU dari belahan dunia tak bisa berkata-kata, yang aku saksikan semua mata menitikkan air mata sambil mengucapkan lafaz-lafaz Al-Qur’an dan memanggil-manggil namaMU.  Subhanallah……. terima kasih ya Allah aku bisa hadir disini dan menyaksikan kebesaranMU.

Hajar Aswad ………….


Jutaan manusia yang melakukan tawaf  tidak membuat aku ciut, aku tak pernah lepas dari suami kami melakukan tawaf dan berdoa sesuai dengan yang diajarkan pada saat kami mengikuti manasik Haji.

Saat melewati Hajar Aswad melihat begitu banyak orang yang berdesak-desakan hatiku jadi pesimis, sepertinya hal itu tidak mungkin bagiku tampak didepan mataku seorang ibu-ibu yang terlempar karena berusaha mencium Hajar Aswad juga seorang Ibu sampai terbuka mukenanya karena dihimpit oleh orang-orang yang berbadan kekar tidak terlihat lagi rasa solidaritas sesama muslim.  Aku lalu mengurungkan niatku untuk bisa mencium Hajar Aswad,  suamiku berpesan jangan terlalu memaksakan karena mencium Hajar Aswad hanyalah sunnat.  Jadilah kami melakukan sholat di Hijr Ismail.

Hari ketiga aku melakukan tawaf  ada perasaan berkecamuk dalam diri ini, entah kenapa hari itu keinginanku begitu besar untuk bisa mencium Hajar Aswad, dengan ditemani oleh suami kami mengatur strategi agar bisa sampai mencium Hajar Aswad,  saat itu antrian agak teratur wanita di pisahkan dengan pria namun entah kenapa masih saja pria menyelinap dekat wanita mungkin salah satunya ada juga calo atau muhrimnya.  Suami yang tadinya berada diluar batas wanita yang mengikuti langkah kakiku menuju Hajar Aswad sampai  terlempar  dan aku yang tadinya dalam antrian terdorong keluar barisan, namun dorongan yang begitu kuat aku berusaha masuk dalam barisan antrian lagi.  Dalam kerumunan orang-orang entah kenapa seperti ada yang mendorongku tiba-tiba aku sudah berada dalam lobang Hajar Aswad dan menciumnya walaupun hanya sebentar namun sampai sekarang masih terasa bau khas batu itu. Terima kasih ya Allah dengan kuasaMu jualah akhirnya aku melewati rintangan itu.

Multazam …………………


Multazam ini sebenarnya tidak jauh dari Hajar Aswad, tapi entah kenapa aku tak bisa sampai kesini,  nanti di hari terakhir sebelum aku pulang dan telah melakukan wajib haji aku baru bisa mencapai dengan bantuan suamiku tercinta.  Disini katanya kalau kita berdoa, doanya akan mustajab (dikabulkan).

Ini sekelumit kisahku…… setelah melakukan wajib haji seperti  miqat, tawaf Ifadah, Sa’i,  Tahallul,  wukuf di Padang Arafah dan  berangkat menuju Mina untuk melempar Jumroh kemudian balik ke Masjidil Haram untuk  Tawaf  Wada,  berakhirlah perjalanan Ibadah Hajiku.

Ya Allah yang Maha Besar,  semoga aku diberi kesempatan kembali untuk berkunjung kerumahMU dan  semoga masih  ada kisah-kisah baru yang akan aku tuliskan dalam perjalanan menuju Baitullah. Amin.

Info : Tata Cara Cara Haji, dapat dilakukan melalui pencarian Google,  http://www.alsofwah.or.id

Masjidil Haram (Ka'Bah)

Masjidil Haram (Ka'Bah)


Multazam

Multazam

Hajar Aswad

Hajar Aswad

8 Tanggapan to “Kisah Perjalan Ibadah Hajiku….”

  1. kapan ya bisa ke sana?

    rosdiana:Insya Allah dengan niat yang tulus semuanya pasti menuju kesana. Terima kasih sudah mengomentari blog aku sebagai seorang pemula, ini yang baru bisa aku paparkan, boleh minta ilmu kalau dalam pembuatan blognya ya.

  2. hi ternyata blog kamu bagus sekali , dan do’a kan aku ya supaya aku jadi orang yang sukses n bisa masuk ke makkah

    rosdiana: terima kasih sudah berkunjung di blog aku, thanks lam kenal ya. aku doakan semoga bapak jadi org yg sukses. amin.

    • pengembaraan jiwa yang istimewa ktika kita mengenal diri kita untk mngenl sang pencipta al haramain memang tempt yng sllu di rindu oleh para hamba yng suluk moga mb ros dan keluarga selalu dapat merealisasikan kemambruran dlm khidupan ini amiin……

  3. Boleh juga blognya, ngomomg-ngomong apa sih triknya bisa cepet naik haji ?

  4. Subhanallah, Alhamdulillah, Walailahailallah, Allahu Akbar !!!

  5. Subhanallah walhamdulillah walailahailallah ALLAHU AKBAR !

  6. Aq jd ikut trharu bc ksh crta’y..ne ja smp keluar aer mt,aq jg dr dl pngn bgt bs spt tu

  7. sama seperti aku, benar2 allah telah memilih orang2 yang akan pergi haji, aku kloter 27 kotamadya cirebon 2008, sungguh2 istimewa.., amin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: