Rose Utina's Blog
Sumber Inspirasi dan semangat hidup

Kisah Nyata

KISAH DI MUSIM DINGIN

Kisah di musim dingin ( true story, seperti temuat dalam Xia Wen Pao, 2007)

Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue danmenjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain.

Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat
keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei
menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru.

Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak
terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah.. Marahlah Siu Lan.Putrinya
benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain
dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya.

Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk
menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi ?

Mereka harus dapat uang untuk makan.

Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan dari
luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran,
pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.

Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu
tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah  tidak bernyawa. Siu Lan berteriak membelah kebekuan salju dan menangis meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera, Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke rumah.

Siu Lan menggoncang- goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei.. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei.
Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, dia membukanya. Isinya sebungkus
kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Siu Lan mengenali tulisan pada
kertas usang itu adalah tulisan Lie Mei yang masih berantakan namun tetap
terbaca

*,”Hi..hi..hi. . mama pasti lupa. Ini hari istimewa buat mama. Aku
membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk membeli
biskuit ukuran besar. Hi.hi.hi..  Mama selamat ulang tahun.”*

———— ——-
Warning !!!!
**Ingatlah, jangan terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan persepsi
kita, karena persepsi kita belum tentu benar adanya. **

Take time to THINK. It is the source of power
Take time to READ. It is the foundation of wisdom
Take time to be QUIET. It is the opportunity to seek God
Take time to DREAM. It is what the future is made of
Take time to PRAY. It is the greatest power on earth……. .

The ESQ book


————————————————————————–

Mama, Belikan Aku BH (Aimee – Bangka)

Aku gundah di dalam kamar, aku malas ke sekolah. Bukan karena aku anak malas. Tapi karena hari ini hari Jum’ at. Hari dimana ada pelajaran ola hraga di jam kedua.

Aku bukan malas olahraga, aku juga tidak membenci sinar matahari pagi yang bikin aku berkeringat, juga bukan benci gerakannya, apalagi benci guru olahraga ku yang baik.

Tapi sekarang aku sudah kelas 5 SD. Aku tak tau kenapa, setiap ganti baju bersama teman2 di kelas atau di belakang WC, aku selalu malu. Malu dengan teman teman ku yang selalu menanyakan kenapa aku belum memakai Miniset, BH untuk anak kecil.

Semua temanku sudah memakainya, ada yang berwarna coklat, ada yang berwarna putih, ada yang berenda, ada yang polos, dan ada yang bergambar mickey mouse. Mereka tampak pede berganti pakaian beramai ramai. Sedang aku memilih di sudut kelas, berganti pakaian, sambil menutup tubuh depanku dengan kemeja yang barusan kupakai tadi.

Mimi teman sebangku ku berteriak, Kenapa jauh jauh gantinya, kan bangku kamu disini? Tidak apa apa, hanya saja aku tidak terbiasa ganti baju beramai ramai jawab ku “ Kamu belum pake miniset ya? “ Tanya Mim ” Belum “ aku menunduk sambil terus melonggarkan kaos olahraga sekolah.

” jadi kamu cuman pake singlet aja di dalem? “

” iya, udah yuk keluar udah sepi> “ jawabku mengalihkan perhatiannya untuk tidak terus bertanya

Perubahan fisikku memang belum terlihat nyata, hanya sedikit menyembul saja. Tapi Mama bilang belum perlu, atau mungkin Mama belum punya kelebihan uang untuk itu. Aku tau untuk baju sekolah dan baju sehari hari saja, kami sekeluarga seringnya mendapat lungsuran dari sepupu kami yang lebih berada. Tapi aku bertekad akan terus merengek, ” Mama, belikan aku BH ” . Sampai Mama membelikannya untuk ku.

Aku pulang bersama Santi dan Mega, aku lesu. Sepanjang perjalanan aku diam saja. Santi dan Mega terus bercanda. Aku tak peduli, aku masih gusar.

Aku masih duduk di dapur luar, aku menunggu Mama pulang. Aku ingin minta sekali lagi ke Mama untuk membelikan aku BH. Sudah jam 4 sore, tapi Mama belum pulang. Apa masih belum laku dagangan nya? Jam 4.30 sore Mama sampai, keringat nya mengalir dari dahinya, walau tertutup caping tetap saja ia berkeringat. Mengayuh sepeda tampaknya bikin capek juga. Duh, Mamaku pasti capek sekali hari ini. Aku batalkan dulu deh untuk sore ini, tunggu nanti malam saja, mungkin mungkin Mama sudah tidak terlalu capek, mau mendengarkan permintaanku.

Malam nya, Mama masih saja sibuk. Membuat sapu sabut. Aku mendekat, kupikir ini saat yang cukup tepat. Saat Mama diam membuat sapu sabut, biasanya Mama mau mendengarkan aku bercerita, jadi aku berani kali ini.

” Ma, tadi siang aku pelajaran olahraga “

“—hmm ya, Jumat ya “

” Ma, kata teman ku, aku sudah seharusnya pake BH atau Miniset

” — Mama diam.

” Ma … , aku malu. Tiap ganti baju selalu mesti berbalik punggung, teman temanku semua sudah pake miniset, aku belum. Walau pun di kelas yang ganti cewe semua, kan malu Ma, kalo aku cuman pake singlet dalem aja. “

” Ya, Ma, belikan ma, satu ajaaaaa .. ..warna coklat bagus ma, yang ada rendanya, kalo dicuci berkali kali gak kelihatan jelek nya, ya Ma ya

… . “

Aku menyemburkan kata kata seperti petasan injek, dan Mama hanya diam menatap lurus ke anyaman sapu yang gak lurus lurus walau udah dirapikannya berkali kali.

” Sudah malam, sana tidur, buku buku besok sudah disiapkan belum? ” .

Hmmm … kali ini pun aku gagal memohon pada mama, masa sih aku mesti minta ke papa. Lebih malu lagi. Juga kasihan jika jadi beban papa, aku minta ini itu. Biaya hidup kami saja sudah pas pas an sekali. Aku tidur, esoknya aku sekolah seperti biasa. Masalah BH dan Miniset sudah tidak jadi pikiran lagi. Karena tidak ada jam olahraga. Aku bebas tidak memikirkan benda tebal berbusa itu lagi. Aku sibuk dengan Santi dan pohon jambu nya, sibuk dengan Mega dan komik komik pinjaman nya.

Sekarang hari Kamis, dan aku gundah gulana lagi, besok sudah Jum at. Aku pasti tidak semangat sekolah lagi. Mama hari ini tidak bangun jam 3 pagi. Kenapa ya? Apa Mama sakit? Yang aku tau, bubur putih sudah ada di meja. Habis sarapan aku pergi ke sekolah. Mega sudah berteriak teriak dari ujung jalan.

” Sudah siang, cepat, nanti sudah bel ” .

Siang bagi kami adalah jam 6.15 pagi. Karena masuk kelas jam 7.00. Jalan ke sekolah ku naik turun bukit bukit kecil, jauh sekali tidak, dekat juga tidak.

Ah, … besok gimana ya? Aku masih belum punya BH.

Aku pulang masih mikirin BH yang hanya bisa aku lihat di badan teman dan kakak ku. Tapi punya teman teman ku kok bagus bagus, berbeda dengan punya kakak.

Sampai dirumah aku kaget, Mama dan sepeda onthel nya ada di rumah. Mama tidak jualan hari ini. Apakah Mama benar benar sakit? Aku menemukan Mama di dapur, sedang masak. Kukira Mama menerima orderan kue dodol, seperti biasa.

Jika Mama mengaduk adonan kue dodol, aku senang karena Mama pasti sambil mengajari ku bernyanyi, dari Thien Mi Mi, Ni Cem Me Suo, sampai Se Sang ce yau Mama Hau. Dia bahkan sering mencatat kan untuk ku beserta artinya.

” Kok, Mama tidak jualan? “

” Tadi Mama ke pasar, cepat ganti baju dan makan, di kamar ada miniset buat kamu, besok bisa dipakai “ Aku tertegun, mama berbicara sambil tetap memasak. Aku ingin memeluknya, tapi di keluarga kami tidak pernah saling memeluk Aku malu. Walau dia Mama ku.

Aku berlari ke kamar, tidak ganti baju sesuai kata kata mama, aku malah membuka kresek hitam kecil. Miniset yang kutunggu selama ini, Miniset yang membuat aku gundah setiap Jum ‘ at, yang hanya bisa aku lihat di tubuh teman teman ku. Sekarang aku punya satu. Horeeeeeeee … … Jum ‘ at ku tak lagi gundah.

Esok esok aku lihat Mama sering berkutat di depan mesin jahit merek Butterfly-nya. Semua kain bekas di karung gudang atas tiba tiba saja bermigrasi ke kamar kami. Mama membeli bergulung gulung karet celana. Rupanya Mama menjahit celana pendek untuk dipakai sehari hari, dari Mama hingga anak memakai celana pendek berwarna sama. Warna warni dengan pola tidak jelas, hanya sebatas lebarnya perca yang tersisa, dijahit sambung menyambung.

Kadang aku sedang tidak suka, aku protes, aku malu memakai celana perca buatan Mama, walau sebagian ada yang masih utuh kain perca nya. Satu celana bisa sama warna nya. Kadang kami tampak seperti Badut pesta. Hijau di depan, merah di belakang, tapi kata Mama tidak apa apa, hanya buat tidur dan dirumah saja.

Itu cerita aku saat aku kelas 5 SD.

22 November 1997.

Hari ini aku memandikan Mama ku, kupakaikan Mama BH terbaik yang ia punya. Kuganti pakaiannya dengan gaun yang paling ia suka, putih berbunga bunga. Kudandani ia seperti layak nya pengantin. Hari ini Mama cantik sekali walau mukanya pucat.

Kuseka kuku kuku nya dengan lap basah, jari jari tangannya mengeras. Terlalu erat menggenggam tali kehidupan tampaknya. Sekuat tenaga berpegang, berjualan yang halal untuk kehidupan anak anak nya. Betis Mama juga besar, menggoes sepeda bermil mil tiap hari, menempa betisnya jadi sebesar ini. Tapi dari semua yang tampak diluar, Mamaku Mama tercantik di dunia ini.

Aku memeluk nya, ini pertama kali aku memeluk Mama ku, tapi ia tak membalas pelukanku. Tangannya tetap mengeras, tak bergerak, walau hanya utk mengusap kepalaku yang ada disisi nya.

” Sudah waktunya “ kata seorang kerabat kami yang tertua. Sedikit senyum dan airmata tumpah bersama. Kami mengantar Mama dengan pakaian terbaiknya, ke liang sunyi peristirahatan terakhir. Hari ini Mama dimataku tampak sama cantik ketika dia membelikan BH pertama ku.

19 November 2008

Aku duduk di depan Komputer kerja ku, menekuri bulan November yang hampir habis. Kemarin aku berjalan jalan ke Mall. Aku melihat banyak BH, dari yang berkualitas baik hingga yang biasa saja, dari yang bertengger sexi di patung hingga dalam box box, dari harga menjulang, hingga hampir > nyungsep terkena promo diskon.

Aku ingin berkata, ” Mama … aku sudah mampu membelikan Mama BH , aku takkan merengek lagi? “ Aku sudah mampu membeli berlusin BH dengan kualitas terbaik yang aku inginkan. Sudah bisa membeli jeans yang berjejer di counter counter ternama. Sudah tak akan merengek minta dibelikan lagi. Disini aku meretas kehidupan baru yang berbeda dengan dunia kita dahulu. Bukan lagi dunia dalam kain perca.

Perjalanan hidup bisa tergerus oleh dimensi waktu, jarak dan ruang, Namun, Dirimu tetap Mama ku yang tercantik, dengan BH apapun yang kau pakai, dengan celana bagus ataupun celana jahitan perca.

Aku ingin mendengar kau bernyanyi sambil mengaduk adonan kue dodol, mengalun lah dalam lagu … lagu kita, lagu yang kita nyanyikan bersama … …

Se Sang Ce Yau Mama Hau … Mama adalah yang terbaik dalam hidupku.

Masih berkumandang, masih begitu menyentuh, masih begitu dekat rasa nya suara itu.

Jikalau masih bisa ingin kupeluk diri mu tanpa perlu ada rasa malu.

Karena kamu adalah Mama ku, satu satu nya orang yang rela tak berjualan satu hari demi membelikan aku sebuah BH.

November berlalu seiring waktu, Kau masih terbaik di hatiku Mom is the Great in My Life.

————————————————————————————————————

Ikatkan Sehelai Pita Kuning Bagiku

Dec 19, 2008

yellowribboncoverart320

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisahnyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecildi White Oak ,, Georgia , Amerika.

Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik,sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya.

Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Diasering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukulianak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kotabesar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, laludia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupanyang baru.

Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru.Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling,drug. Dia menikmati semuanya. Bulan berlalu. Tahun berlalu.Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang.

Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Iamenulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uangorang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisimenjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukumdia tiga tahun penjara. Menjelang akhir masa penjaranya, diamulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya.

Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untukmenulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapamenyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dananak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh kembali.

Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudahterlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya denganmenulis, “Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku.Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kaunyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlahsehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringinyang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidakmenemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahudan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terusmenuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagimenganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku.”Akhirnya hari pelepasannya tiba.

Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dariisterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnyaatau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia maumengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yangmelewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangatgugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka memintakepada sopir bus itu, “Tolong, pas lewat White Oak,jalan pelan-pelan. ..kita mesti lihat apa yang akanterjadi…” Hatinya berdebar-debar saat bis mendekatipusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya.

Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohonitu. Air mata menetes di matanya… Dia tidak melihat sehelai pita kuning… Tidak ada sehelai pita kuning….Tidak ada sehelai….. . Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning…. bergantungan di pohon beringin itu…Ooh… seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning…!!!!!!!!!!!!

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon suratkabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, “Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree“, dan ketika album ini di-rilispada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulanApril 1973.

Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree

I’m coming home I’ve done my time
And I have to know what is or isn’t mine
If you received my letter
Telling you I’d soon be free
Then you’d know just what to do
If you still want me
If you still want me
Oh tie a yellow ribbon
‘Round the old oak tree
It’s been three long years
Do you still want me
If I don’t see a yellow ribbon
‘Round the old oak tree
I’ll stay on the bus, forget about us
Put the blame on me
If I don’t see a yellow ribbon
‘Round the old oak tree
Bus driver please look for me
‘Cause I couldn’t bare to see what I might see
I’m really still in prison
And my love she holds the key
A simple yellow ribbon’s all I need to set me free
I wrote and told her please
Oh tie a yellow ribbon
‘Round the old oak tree
It’s been three long years
Do you still want me
If I don’t see a yellow ribbon
‘Round the old oak tree
I’ll stay on the bus, forget about us
Put the blame on me
If I don’t see a yellow ribbon
‘Round the old oak tree
Now the whole damn bus is cheering
And I can’t believe I see
A hundred yellow ribbons
‘Round the old, the old oak tree
Tie a ribbon ’round the old oak tree
Tie a ribbon ’round the old oak tree
Tie a ribbon ’round the old oak tree
Tie a ribbon ’round the old oak tree
Tie a ribbon ’round the old oak tree
Tie a ribbon ’round the old oak tree
Tie a ribbon ’round the old oak tree
Tie a ribbon ’round the old oak tree

– sekian –

——————————————————————————-

Kisah Nyata (Pengalaman Pramugari China Airlines)

Sep 5, 2008 in Kisah Nyata

True Story ……………

Mudah2an kisah nyata ini bisa menjadi renungan & motivasi bagi kita semua untuk mendapatkan inspirasi seperti pramugari ini. Semoga Bermanfaat..

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayanipenumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking ,penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkulsebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saatitu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesanpertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah majuseorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketikamelewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, diaduduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karungtua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikantangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatasbagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannyaduduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat diaduduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan jugaditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah diasakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilettetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takutmerusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya danmenyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saatmenyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik kepenumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannyakami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kamimengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah,kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini denganspontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkankepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidakpercaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa hausdan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidakdiladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghematbiaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandarabaru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapatmeminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupunkebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenangmeminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik,putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliahditingkat tiga di Peking . anak sulung yang bekerja di kota menjemputkedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orangtua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali kedesa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunyadi Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobilbegitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemanibapaknya bersama-sama ke Peking , tetapi ditolak olehnya karenadianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikerasdapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anakbungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruhmenitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikerasmembawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebutakan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur,akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasitempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakankarung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, diaselalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi diatetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudahsangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil diamenanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakanmakanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernahmelihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebutuntuk anaknya, kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimataseorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, denganterharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kamibagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akankami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolakpemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakantidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulustersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaranberharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapisiapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, diayang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintupesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidakbisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembahkami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakanbahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami didesa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yangbegitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidakmemandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik,saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian.Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangisdia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya danmenyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluardari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpangsudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain,tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanyamenjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yangkami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tuayang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkanterima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering danmenahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidakbersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebutmembuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangatberharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang daripenampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang danmensyukuri apa yang kita dapat.

————————————————————————————–

MAMPUKAH KITA MENCINTAI ISTRI KITA TANPA SYARAT???

Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. EkoPratomo,

Direktur Fortis Asset Management

yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia.

Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali.
Silahkan baca dan dihayati.

*MAMPUKAH KITA MENCINTAI ISTRI KITA TANPA SYARAT*– – –

sebuah perenungan

Buat para suami baca ya….. istri & calon istri juga boleh..

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.

Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…
ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……. bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” .

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2nya.

“Anak2ku ……… Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu,
mungkin bapak akan menikah….. tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian..
sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini
dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun.

Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini??
Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”

Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno.. dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi narasumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno
kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.

“Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya,
tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan.

Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..

Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya.

Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,”

================(0)==================

Kasih dan Cinta mengalahkan semuanya………

Untuk Sahabat2ku, ini sebuah kisah menyentuh hati dalam foto yang nyata.
Tuhan itu maha adil dan maha penyayang, Kisah seorang suami istri dalam keluarga yang sangat sederhana, melihat rata2 sosok laki nya itu bisa dinilai seorang pria yang cukup sempurna terutama dalam penampilannya, tapi dia mempunyai seorang istri yang mempunyai kelainan dalam fisiknya, dimana wanita tersebut tidak mempunyai kaki sama sekali to tal dai ujung kaki hingga ujung paha bahkan wanita itu tidak memiliki sama sekali pinggul (bagian dari pangkal paha hingga batas pinggang), jadi sulit skali bila duduk karena tida memiliki alas dibawah pinggang tsb., tapi kebesaran Tuhan tentu lain, wanita tersebit memiliki suami yang cukup ganteng, masih muda dan sangat cukup sempurna mau memiliki dan mengasihi seorang wanita yang mempunyai cacat fisik bawaan. mereka sekarang dikaruniai dua orang anak yang sangat sempurna dan lucu sekali.
Silahkan anda menyimak satu persatu foto 2 keluarga tersebut tentu saya melihatnya dengan hati sangat haru.

foto1foto2foto3foto4foto5foto8foto9foto102foto11foto12foto15foto17
foto14foto18foto131


Jangan benci aku mama……

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan.
Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang canti k mungil. Saya menamainya Angelica.
Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.
Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataansaya. Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang.

Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun..telah berlalu sejak kejadian itu.
Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan.
Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.
Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak.
Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya.
Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!”
Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya,
“Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?”
“Nama saya Elic, Tante.”
“Eric? Eric… Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?”
Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric
melintas kembali di pikiran saya.
Ya Eric, Mommy akan menjemputmu  Eric…
Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping.
“Mary, apa yang sebenarnya terjadi?” “Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” tTpi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak…
Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat
betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric..
Eric…
Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.
Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya…
Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”
Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal  bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu!
Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”
Saya pun membaca tulisan di kertas itu…
“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”
Saya menjerit histeris membaca surat itu.
“Bu, tolong katakan…katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya
tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras. “Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana … Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan
deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana .
Nyonya,dosa anda tidak terampuni!”
Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

(kisah nyata di irlandia utara)



Belum Ada Tanggapan to “Kisah Nyata”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: